jump to navigation

Ledakan Tambang Batu Bara di Sawah Lunto Juni 16, 2009

Posted by witart in methana.
Tags: , ,
add a comment

Ledakan Tambang Batu Bara di Sawah Lunto
Gas Metana Picu Ledakan : Selasa, 16 Juni 2009 15:22 WIB


Masyarakat dan tim penyelamat berkerumun di sekitar
lubang-lubang pertambangan batu bara tradisional di
Sawahlunto, Sumatera Barat, Selasa (16/6).
Diperkirakan 36 orang berada dalam tambang batu
bara saat terjadi ledakan pada pukul 10.00.

JAKARTA–MI: Departemen ESDM mengungkapkan, berdasarkan dugaan sementara, ledakan yang terjadi di lokasi tambang batu bara, Sawahlunto, Sumatra Barat milik PT Dasrat Malawi akibat gas metana.

Direktur Teknik dan Lingkungan Ditjen Minerba Pabum Departemen ESDM MS Marpaung di Jakarta, Selasa (16/6) menjelaskan, akibat ledakan tersebut tiga orang tewas dan kemungkinan masih ada 30 penambang lainnya yang terjebak di dalam tambang.

“Tambang batu bara ini merupakan KP (kuasa pertambangan) berjenis underground (bawah tanah),” katanya.

Menurut Marpaung, untuk sementara, operasi tambang tersebut ditutup terlebih dahulu dan selanjutnya dilakukan penyelidikan. “Kami akan lihat apakah metode penambangan sudah sesuai dengan ketentuan atau tidak. Kami juga akan lihat, apakah ada ventilasi keluarnya gas metana,” ujarnya.

Gas metana merupakan gas yang memang terperangkap di dalam rongga-rongga batu bara. Gas tersebut akan keluar dengan sendirinya kalau sudah berhubungan dengan udara luar.

Tambang batu bara milik Dasrat Palawi di Sawahlunto, Sumatra Barat itu, pada Selasa pukul 10.45 WIB meledak yang menyebabkan enam orang tewas dan sedikitnya 24 orang masih terjebak di dalam lokasi penambangan. (Ant/OL-03)

sumber:
mediaIndonesia

Contoh ledakan methana pada toilet
youtube1
youtube2

sapi koq nyetrum (3) September 10, 2008

Posted by witart in bali.
Tags: , , , , , , ,
1 comment so far

Penutup

halaman : 12 – [3]

1.    Kreasi Cerdas yang ber-Manfaat Nyata

Apa yang dilakukan oleh Nyoman Sarma dalam memanfaatkan biogas, bukan sesuatu yang aneh secara teoritis. Namun jika dicermati tentang keterbatasannya sebagai seorang autodidak, hal itu merupakan suatu loncatan pencerahan dari suatu kreasi cerdas, di tengah krisis energi jilid ke sekian, yang menimpa seluruh bangsa, di negeri ini. Dan tentunya krisis energi ini akan berlanjut, karena cadangan minyak dunia makin berkurang.

Banyak peternak di Lembang yang sudah memanfaatkan biogas dari limbah ternaknya untuk memasak. Demikian juga perajin pembuat tahu di Tegal sudah memanfaatkan limbah tahu menjadi biogas untuk memasak. Bahkan biogasnya dibagikan ke tetangga. Namun belum diketahui, apakah para peternak Lembang atau di daerah lain telah berani mencoba mengorbankan genset BBM-nya untuk bereksperimen seperti Nyoman Sarma, agar menghasilkan listrik.

Kita sebagai konsumen media massa, bahkan internet, akan lebih mudah untuk mengakses informasi pengetahuan, dibanding dengan keterbatasan Nyoman Sarma. Namun akankah kita rela mengorbankan genset listrik kita untuk coba-coba. Kita harus bersikap fair. Idea yang diwujudkan oleh Nyoman Sarma, ternyata setara dengan idea yang menyebabkan pemerintah daerah provinsi Ontario, Kanada, sehingga rela mendanai 5 juta USD, demi mengelola limbah sapi yang mencapai 50 juta ton di propinsi itu, untuk dimanfaatkan menjadi energi listrik.

Karena itulah, kita perlu memberi penghargaan tinggi kepada seorang Nyoman Sarma, atas kenekadannya itu, yang telah membuat Sapi bisa nyetrum. Apa yang dilakukannya, merupakan suatu Kreasi Cerdas dengan selalu merujuk pada Manfaat Nyata, yang diwujudkan dengan Karya Nyata, serta dicapai dengan susah payah melalui Motivasi yang mungkin Beresiko.

2.    Menyikapi keterbatasan dengan kearifan

Naiknya harga bahan bakar minyak, telah memberi keterbatasan kreativitas kita. Mobilitas kita menjadi ikut terbatas. Kehebatan jaringan ICT (Information Computer Technology) kita, menjadi harus lebih ”santun” menghadapi giliran pemadaman listrik. Dan memang sudah seharusnya.

Dalam perkembangan eksplorasi mencari bahan bakar minyak, semakin lama semakin mahal dan beresiko. Cadangan minyak di daratan sudah menjadi lebih sedikit, dibandingkan di lepas pantai. Sementara pencarian minyak di lepas pantai (off-shore) membutuhkan biaya lebih dari 10 kali, jika dilakukan di daratan.

Lalu bagaimana dengan sikap kita ? Pantaskah kita bersikap manja memprotes hal itu ? Atau, pernahkah kita memprotes pemborosan energi yang telah kita lakukan ?

3.    Kearifan yang mendobrak keterbatasan

Bukankah sebaran populasi sapi kita cukup menarik ? Jika kotoran sapi yang bisa dijadikan menjadi biogas, bukankah ini akan menjadi lapangan kerja, seperti yang diimpikan Obama dalam isi pidato pengukuhan pencalonannya ?

Di Lembang, kotoran sapi melimpah, walau sebagian sudah dibuat menjadi biogas untuk keperluan dapur. Artinya, masih ada bahan baku bagi pembangkitan listrik swadaya masyarakat.

Seharusnya pemerintah daerah memberi fasilitas bagi tumbuhnya swadaya energi tersebut. Termasuk memberi penghargaan kepada masyarakat peneliti perintis, seperti Nyoman Sarma. Termasuk memberi apresiasi bagi komunitas yang telah mandiri memenuhi kebutuhan listriknya. Termasuk mendorong tumbuhnya penelitian yang lebih akademis di perguruan tinggi setempat. Termasuk mendorong tumbuhnya bantuan teknis, agar pengelolaan energi biogas secara swakelola dapat berlangsung aman dari resiko kesalahan teknis, mengingat biogas alias gas methane mudah terbakar.

Jadi, kenapa kita tidak mencoba lebih arif, seperti Nyoman Sarma, untuk memanfaatkan energi lain, yang berlimpah di sekeliling kita. Kita perlu bersyukur, bahwa ada keberhasilan yang telah dicapai Nyoman Sarma. Namun untuk mencapainya, Nyoman telah melewati berbagai resiko dengan mendobrak keterbatasannya, termasuk tidak mempedulikan depresiasi harga peralatan, termasuk harus sering menutup hidung jika membaui kotoran sapi, yang akan dibuatnya nyetrum….  :-)

halaman : 12 – [3]


Pustaka :

  1. Naskah hasil wawancara Nyoman Sarma oleh Andri Fajria, pada Seminar Solusi Praktis Menjawab kenaikan BBM, majalah GaGaz dan komunitas itb77, 28 agustus 2008
  2. situs dung poop power
  3. situs riverdeep cow power
  4. situs www.answers.com : cow dung
  5. situs ubud community
  6. situs nomad restaurant
  7. situs gianyar tourism
  8. situs www.lfpress.com
  9. situs manure manager
  10. situs www.iop.org
  11. situs hdisnak jawa barat
  12. situs disnak jawa tengah
  13. situs disnak jawa timur
  14. dokumen litbang deptan ntb : perkembangan digester
  15. dokumen www.surya.co.id
  16. dokumen departemen pertanian : publikasi

sapi koq nyetrum (2) September 9, 2008

Posted by witart in bali.
Tags: , , , , , , ,
5 comments

4. Sketsa instalasi Sistem Biogas Nyoman Sarma :

halaman : 1 – [2] – 3


enlarge image

Keterangan :

1 Bak pencampuran (Umpan) 5 Pipa Biogas
2 Digester 6 Penampung Biogas (Methane)
3 Bak Kontrol 7 Genset (generator listrik)
4 Bak penampungan limbah digester berisi Kompos Organik siap pakai 8 Kompor gas

Cara menyalakan genset cukup mudah. Mula-mula aktifkan Switch ON pada genset. Buka valve pada selang biogas. Genset di-starter. Kemudian switch koneksi ke jaringan listrik rumah

Untuk ukuran rumah di pedesaan, listrik dengan kapasitas 800 watt, bisa disebut lebih dari cukup. Hasil kreasi cerdas ini, ternyata mampu mengurangi beban listrik PLN, serta mengurangi pengeluaran rumah tangga, dalam konteks kebutuhan listrik dan bahan bakar di dapur.

5. Nilai keekonoman kotoran sapi

Walau tidak memiliki pendidikan formal yang utuh, Nyoman mampu berhitung. Dengan memiliki 70 ekor sapi, setiap hari dapat dihasilkan 1 ton kotoran sapi, sehingga didapatkan pupuk kompos 500 Kg. Harga jual pupuk Rp 1.000,- / Kg. Omzet pupuk mencapai rata-rata Rp 500.000,- per hari, atau Rp 15 juta per bulan. Nilai ini lebih dari cukup untuk mencukupi biaya operasional 4 orang karyawan.

Sebagian dari kotoran sapi dia gunakan sebagai biogas. Biogas ini digunakan untuk keperluan memasak dan listrik. Dari 10 ekor sapi, Nyoman Sarma dapat memperoleh listrik 800 Watt. Sisa dari pengolahan biogas dapat digunakan sebagai pupuk cair. Harga pupuk cair mencapai Rp 5.000,- per ember. Sementara urine sapi pun dia kumpulkan, karena sangat berharga. Dari urine sapi dia bisa membuat zat anti hama.

6. Gas Methane sebagai unsur utama Biogas

Biogas mayoritas terdiri dari gas methane, yang mempunyai rumus kimia CH4. Gas ini mempunyai karakteristik :tidak berbau (odorless), tidak berwarna (colorless), dan mudah terbakar. Jika terdapat cukup oksigen, pembakaran gas methane akan membentuk CO2 dan air, atau disebut pembakaran yang lengkap. Sementara jika tidak terdapat oksigen yang mencukupi, akan terbentuk CO, pembakaran yang tidak lengkap.

Menurut Ensiklopedia Britanica, gas methane dapat terkumpul pada cekungan batubara. Gas methane juga dapat terbentuk akibat dekomposisi dari tanaman yang dimakan oleh bakteri anaerob (bakteri yang hidup tanpa oksigen). Selain itu gas methane ada di dalam rumen, atau hancuran tumbuhan yang sedang dicerna dalam perut sapi.

Gas methane tersedia melimpah di alam. Bersih. Harganya murah, serta. dapat digunakan sebagai bahan bakar di rumah tangga.

7. Menarik hati peternak yang lebih muda

Kreasi yang telah dilakukan Nyoman Sarma ternyata menggugah peternak lain. Mungkin Nyoman tidak memahami, apa itu CH4 atau methane. Namun demikian, hal itu tidak menghalangi Andri Fajria, Ketua Himpunan Peternak dari Balaraja, Tangerang, pada bulan Agustus 2008, segera terbang ke Ubud. Andri mewawancarai Nyoman Sarma, sambil belajar.

Menurut Andri, Nyoman Sarma adalah seorang visioner yang mendahului zamannya dan jeli melihat peluang. Nyoman Sarma tidak patah semangat ketika gagal mendapatkan hasil penelitian. Nyoman akan terus mencari informasi, baik melalui sharing informasi dengan para turis, juga belajar dari buku-buku, serta melakukan percobaan secara mandiri (autodidact).

Domentasi Andri Fajria tentang instalasi Sistem Biogas di tempat Nyoman Sarma

kotoran sapi dan air (1) digester. (2) tempat biogas (6) genset biogas (7)

Nyoman Sarma adalah “orang lapangan” yang berprinsip “sedikit bicara, banyak bekerja”. Pertanian organik dan peternakan sapi yang dirintis Nyoman Sarma menjadi bukti keberhasilan model pertanian-peternakan terintegrasi. Kunci keberhasilannya antara lain : ketekunan dan idealisme menyelamatkan alam ini, serta menebarkan ide gaya hidup sehat

8. Mengintip negeri maju

Jika kita mengintip negeri maju, seperti Kanada, idea cerdas seperti yang dilakukan Nyoman sangat dihargai. Pemerintah daerah bahkan mendukung pembangkitan energi listrik berbasis biogas di suatu peternakan besar, Stanton, yang terletak di provinsi Ontario.

Dana sebesar 5 juta USD telah disiapkan bagi suatu pembangkit listrik dengan teknologi anaerobic digestion, pada peternakan susu sapi Laurie Stanton’s, yang memiliki 750 ekor sapi. Hal ini akan dapat menangani problem dalam skala 50 juta ton biomassa atau residu (limbah) dari tanaman dan binatang di provinsi itu, setiap tahunnya. Listrik yang dihasilkan sekitar 1.3 Megawatt listrik, cukup untuk melistriki 800 rumah tinggal.

9. Sebaran populasi sapi potensi sumber biogas di negeri ini

Menurut data pada situs dinas Peternakan Jawa Barat tahun 2007, populasi sapi perah terbanyak ada di Kab Bandung (47,958 ekor), dan Kab Garut (13,839 ekor). Sementara populasi sapi potong terbanyak ada di Kab Ciamis (31,873 ekor), dan kab Sumedang (28,463 ekor).

Data dari situs dinas Peternakan Jawa Tengah Data tahun 2006, populasi sapi perah terbanyak ada di Kab Boyolali (59.687 ekor), dan Kab Semarang (32.546 ekor). Sedangkan populasi sapi potong terbanyak ada di Kab Blora (218.575 ekor) dan Kab Wonogiri (148.816 ekor).

Data dari situs dinas Peternakan Jawa Tengah Data tahun 2007, populasi sapi perah terbanyak ada di Kab Malang (49.727 ekor), dan kab Pasuruan (45.017 ekor). Populasi sapi potong banyak terdapat di Kab Sumenep (233.470 ekor), dan kab Jember 184.202 ekor.

halaman : 1 – [2] – 3


sapi koq nyetrum (1) September 9, 2008

Posted by witart in bali.
Tags: , , , , , , ,
2 comments

1. Membenturkan kreativitas dengan batas psikologis
disusun witarto, seorang guru sekolah di tepian suatu kota, 2008

halaman : [1] – 23

Kreativitas putra-putri Indonesia sedang diuji. Ada batas tegas yang mulai menghambatnya. Hal itu terjadi ketika bangsa Indonesia sudah tidak bisa lagi bermanja dengan memboroskan energi fossil, yang dulunya dianggap melimpah. Ketika harga bahan bakar minyak (BBM) dunia telah melewati nilai 140 USD, semua menjadi lebih jelas. Nilai itu menjadi batas psikologis yang lebih tegas. Bahwa transportasi kita terancam. Bahwa ketersediaan listrik kita menjadi byar pet. Bahwa semakin banyak peralatan listrik kita, mulai masuk dalam antrian dan pilihan.

Kreativitas putra-putri Indonesia sudah ada yang teruji. Di tengah kondisi seperti itu, Nyoman Sarma, salah seorang putra Indonesia, telah melakukan kreasi yang belum begitu biasa, tapi nyata. Kreasi Nyoman mampu menghasilkan energi listrik dari ternak sapinya. Dengan 10 ekor sapi, dia bisa memperoleh 800 watt energi listrik.

Sungguh aneh, kenapa sapi bisa menghasilkan energi listrik. Selama ini yang dimengerti oleh banyak orang adalah, yang mampu menyetrum orang itu hanya belut listrik.

2. Belajar dari kehidupan

Kreasi Nyoman memang tidak biasa. Banyak batasan yang telah diterima dalam kehidupannya. Di antaranya, Nyoman Sarma tidak mampu menyelesaikan pendidikan formalnya. Namun keterbatasan itu tidak mencegahnya untuk selalu belajar. Dia belajar dari kondisi sekelilingnya. Dia belajar kepada alam. Dan dia belajar langsung dari kehidupan.

nyoman sarma Hal ini tercermin dari rasa penasaran dihatinya, ketika melihat banyaknya produk unggulan pertanian berlabel “Bangkok” membanjiri supermarket Indonesia. Ketika berkesempatan mengunjungi Thailand pada tahun 1986, dia mampir ke pusat pertanian Chiang Mai. Dia menyerap inspirasi dari seorang petani Jepang, yang kebetulan ditemuinya di sana. Petani itu menggunakan urine sapi sebagai pupuk dan obat anti hama.

Sepulangnya ke Indonesia, Nyoman mencoba mencari tahu tentang pemanfaatan urine sapi. Tetapi informasi tentang pemanfaatan urine untuk pupuk, sangat sulit diperoleh.

Baru setelah 26 tahun kemudian, yaitu tahun 2002, Nyoman Sarma menembus keterbatasan itu. Dia mulai mendirikan pertanian organik dan terpadu, dengan 10 ekor sapi di atas tanah seluas 4 hektar, di daerah Baturiti, Bedugul. Tanaman organik yang dihasilkan, dia gunakan untuk memasok kebutuhan rumah makan Nomad, miliknya di Ubud, dan rumah makan vegetarian di Ubud Sari Health Resort. Model pertanian organik dan terpadu tersebut, kini sering dikunjungi orang dari berbagai penjuru dunia dan menjadi tempat belajar banyak orang

3. Belajar dari pendatang

Nomad merupakan julukan bagi Nyoman Sarma. Dalam keterbatasannya, dia bersama dengan teman-temannya berkelana untuk terus belajar. Ketika sudah mulai berumur, dia melanjutkan hobby berkelana dengan mengunjungi pulau-pulau lain, berkeliling Indonesia.

Tahun 1979 dia membuka restaurant pertamanya, yang kemudian diikuti oleh usahanya yang lain, seperti Ubud Sari Health Resort, Nomad Adventure Rafting, T-House dan Divya Boutique.

Aktivitas Nyoman Sarma sangat sibuk. Namun dia termasuk orang yang suka berbaur dengan para pendatang atau turis yang mengunjungi restaurant-nya untuk saling bertukar cerita.

Dari pertukaran cerita itulah, Nyoman Sarma lalu melanjutkan, belajar dari kehidupan. Termasuk di antaranya, kemudian dia mampu membuat diagram sederhana yang memetakan jaringan siklus usahanya. Dia juga kemudian mampu membuat perhitungan sederhana untuk menyusun nilai keekonomian yang terdapat dalam kotoran sapi.

Agaknya dari interaksi dengan para pendatang itu, dia bisa melihat kelebihan dan peluang usaha makanan dari tanaman organik. Dia konsisten dengan hal itu. Makanan dari bahan pangan organik itu, sekarang menjadi ciri khas restaurantnya.

halaman : [1] – 23


catatan:salah satu makalah Seminar Solusi: “Menjawab Kenaikan Harga BBM dengan Solusi Praktis”, majalah Ganesha Gazette (GaGaz), 28 agustus 2008. Ditulis atas seijin Bapak Alfred Menayang, owner majalah Gagaz, dan disebarkan demi mencerdaskan semua anak bangsa Indonesia, agar mampu melakukan swadaya energi.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.