jump to navigation

sapi koq nyetrum (1) September 9, 2008

Posted by witart in bali.
Tags: , , , , , , ,
trackback

1. Membenturkan kreativitas dengan batas psikologis
disusun witarto, seorang guru sekolah di tepian suatu kota, 2008

halaman : [1] – 23

Kreativitas putra-putri Indonesia sedang diuji. Ada batas tegas yang mulai menghambatnya. Hal itu terjadi ketika bangsa Indonesia sudah tidak bisa lagi bermanja dengan memboroskan energi fossil, yang dulunya dianggap melimpah. Ketika harga bahan bakar minyak (BBM) dunia telah melewati nilai 140 USD, semua menjadi lebih jelas. Nilai itu menjadi batas psikologis yang lebih tegas. Bahwa transportasi kita terancam. Bahwa ketersediaan listrik kita menjadi byar pet. Bahwa semakin banyak peralatan listrik kita, mulai masuk dalam antrian dan pilihan.

Kreativitas putra-putri Indonesia sudah ada yang teruji. Di tengah kondisi seperti itu, Nyoman Sarma, salah seorang putra Indonesia, telah melakukan kreasi yang belum begitu biasa, tapi nyata. Kreasi Nyoman mampu menghasilkan energi listrik dari ternak sapinya. Dengan 10 ekor sapi, dia bisa memperoleh 800 watt energi listrik.

Sungguh aneh, kenapa sapi bisa menghasilkan energi listrik. Selama ini yang dimengerti oleh banyak orang adalah, yang mampu menyetrum orang itu hanya belut listrik.

2. Belajar dari kehidupan

Kreasi Nyoman memang tidak biasa. Banyak batasan yang telah diterima dalam kehidupannya. Di antaranya, Nyoman Sarma tidak mampu menyelesaikan pendidikan formalnya. Namun keterbatasan itu tidak mencegahnya untuk selalu belajar. Dia belajar dari kondisi sekelilingnya. Dia belajar kepada alam. Dan dia belajar langsung dari kehidupan.

nyoman sarma Hal ini tercermin dari rasa penasaran dihatinya, ketika melihat banyaknya produk unggulan pertanian berlabel “Bangkok” membanjiri supermarket Indonesia. Ketika berkesempatan mengunjungi Thailand pada tahun 1986, dia mampir ke pusat pertanian Chiang Mai. Dia menyerap inspirasi dari seorang petani Jepang, yang kebetulan ditemuinya di sana. Petani itu menggunakan urine sapi sebagai pupuk dan obat anti hama.

Sepulangnya ke Indonesia, Nyoman mencoba mencari tahu tentang pemanfaatan urine sapi. Tetapi informasi tentang pemanfaatan urine untuk pupuk, sangat sulit diperoleh.

Baru setelah 26 tahun kemudian, yaitu tahun 2002, Nyoman Sarma menembus keterbatasan itu. Dia mulai mendirikan pertanian organik dan terpadu, dengan 10 ekor sapi di atas tanah seluas 4 hektar, di daerah Baturiti, Bedugul. Tanaman organik yang dihasilkan, dia gunakan untuk memasok kebutuhan rumah makan Nomad, miliknya di Ubud, dan rumah makan vegetarian di Ubud Sari Health Resort. Model pertanian organik dan terpadu tersebut, kini sering dikunjungi orang dari berbagai penjuru dunia dan menjadi tempat belajar banyak orang

3. Belajar dari pendatang

Nomad merupakan julukan bagi Nyoman Sarma. Dalam keterbatasannya, dia bersama dengan teman-temannya berkelana untuk terus belajar. Ketika sudah mulai berumur, dia melanjutkan hobby berkelana dengan mengunjungi pulau-pulau lain, berkeliling Indonesia.

Tahun 1979 dia membuka restaurant pertamanya, yang kemudian diikuti oleh usahanya yang lain, seperti Ubud Sari Health Resort, Nomad Adventure Rafting, T-House dan Divya Boutique.

Aktivitas Nyoman Sarma sangat sibuk. Namun dia termasuk orang yang suka berbaur dengan para pendatang atau turis yang mengunjungi restaurant-nya untuk saling bertukar cerita.

Dari pertukaran cerita itulah, Nyoman Sarma lalu melanjutkan, belajar dari kehidupan. Termasuk di antaranya, kemudian dia mampu membuat diagram sederhana yang memetakan jaringan siklus usahanya. Dia juga kemudian mampu membuat perhitungan sederhana untuk menyusun nilai keekonomian yang terdapat dalam kotoran sapi.

Agaknya dari interaksi dengan para pendatang itu, dia bisa melihat kelebihan dan peluang usaha makanan dari tanaman organik. Dia konsisten dengan hal itu. Makanan dari bahan pangan organik itu, sekarang menjadi ciri khas restaurantnya.

halaman : [1] – 23


catatan:salah satu makalah Seminar Solusi: “Menjawab Kenaikan Harga BBM dengan Solusi Praktis”, majalah Ganesha Gazette (GaGaz), 28 agustus 2008. Ditulis atas seijin Bapak Alfred Menayang, owner majalah Gagaz, dan disebarkan demi mencerdaskan semua anak bangsa Indonesia, agar mampu melakukan swadaya energi.

Komentar»

1. dode - September 11, 2008

Perlu terus dikembangkan kayaknya ini untuk menekan angka pengangguran.

2. Rafiadjie,jl mariti no 15 cilandak barat jkt sel 12430 jakarta - November 5, 2009

salam sejahtera.mas Nyoman saya perlu info mengenai energi tija lebih detail,karna dinternet kurang komlit,saya bisa mendapatkannya dr mana terrima kasih.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: