jump to navigation

sapi koq nyetrum (3) September 10, 2008

Posted by witart in bali.
Tags: , , , , , , ,
trackback

Penutup

halaman : 12 – [3]

1.    Kreasi Cerdas yang ber-Manfaat Nyata

Apa yang dilakukan oleh Nyoman Sarma dalam memanfaatkan biogas, bukan sesuatu yang aneh secara teoritis. Namun jika dicermati tentang keterbatasannya sebagai seorang autodidak, hal itu merupakan suatu loncatan pencerahan dari suatu kreasi cerdas, di tengah krisis energi jilid ke sekian, yang menimpa seluruh bangsa, di negeri ini. Dan tentunya krisis energi ini akan berlanjut, karena cadangan minyak dunia makin berkurang.

Banyak peternak di Lembang yang sudah memanfaatkan biogas dari limbah ternaknya untuk memasak. Demikian juga perajin pembuat tahu di Tegal sudah memanfaatkan limbah tahu menjadi biogas untuk memasak. Bahkan biogasnya dibagikan ke tetangga. Namun belum diketahui, apakah para peternak Lembang atau di daerah lain telah berani mencoba mengorbankan genset BBM-nya untuk bereksperimen seperti Nyoman Sarma, agar menghasilkan listrik.

Kita sebagai konsumen media massa, bahkan internet, akan lebih mudah untuk mengakses informasi pengetahuan, dibanding dengan keterbatasan Nyoman Sarma. Namun akankah kita rela mengorbankan genset listrik kita untuk coba-coba. Kita harus bersikap fair. Idea yang diwujudkan oleh Nyoman Sarma, ternyata setara dengan idea yang menyebabkan pemerintah daerah provinsi Ontario, Kanada, sehingga rela mendanai 5 juta USD, demi mengelola limbah sapi yang mencapai 50 juta ton di propinsi itu, untuk dimanfaatkan menjadi energi listrik.

Karena itulah, kita perlu memberi penghargaan tinggi kepada seorang Nyoman Sarma, atas kenekadannya itu, yang telah membuat Sapi bisa nyetrum. Apa yang dilakukannya, merupakan suatu Kreasi Cerdas dengan selalu merujuk pada Manfaat Nyata, yang diwujudkan dengan Karya Nyata, serta dicapai dengan susah payah melalui Motivasi yang mungkin Beresiko.

2.    Menyikapi keterbatasan dengan kearifan

Naiknya harga bahan bakar minyak, telah memberi keterbatasan kreativitas kita. Mobilitas kita menjadi ikut terbatas. Kehebatan jaringan ICT (Information Computer Technology) kita, menjadi harus lebih ”santun” menghadapi giliran pemadaman listrik. Dan memang sudah seharusnya.

Dalam perkembangan eksplorasi mencari bahan bakar minyak, semakin lama semakin mahal dan beresiko. Cadangan minyak di daratan sudah menjadi lebih sedikit, dibandingkan di lepas pantai. Sementara pencarian minyak di lepas pantai (off-shore) membutuhkan biaya lebih dari 10 kali, jika dilakukan di daratan.

Lalu bagaimana dengan sikap kita ? Pantaskah kita bersikap manja memprotes hal itu ? Atau, pernahkah kita memprotes pemborosan energi yang telah kita lakukan ?

3.    Kearifan yang mendobrak keterbatasan

Bukankah sebaran populasi sapi kita cukup menarik ? Jika kotoran sapi yang bisa dijadikan menjadi biogas, bukankah ini akan menjadi lapangan kerja, seperti yang diimpikan Obama dalam isi pidato pengukuhan pencalonannya ?

Di Lembang, kotoran sapi melimpah, walau sebagian sudah dibuat menjadi biogas untuk keperluan dapur. Artinya, masih ada bahan baku bagi pembangkitan listrik swadaya masyarakat.

Seharusnya pemerintah daerah memberi fasilitas bagi tumbuhnya swadaya energi tersebut. Termasuk memberi penghargaan kepada masyarakat peneliti perintis, seperti Nyoman Sarma. Termasuk memberi apresiasi bagi komunitas yang telah mandiri memenuhi kebutuhan listriknya. Termasuk mendorong tumbuhnya penelitian yang lebih akademis di perguruan tinggi setempat. Termasuk mendorong tumbuhnya bantuan teknis, agar pengelolaan energi biogas secara swakelola dapat berlangsung aman dari resiko kesalahan teknis, mengingat biogas alias gas methane mudah terbakar.

Jadi, kenapa kita tidak mencoba lebih arif, seperti Nyoman Sarma, untuk memanfaatkan energi lain, yang berlimpah di sekeliling kita. Kita perlu bersyukur, bahwa ada keberhasilan yang telah dicapai Nyoman Sarma. Namun untuk mencapainya, Nyoman telah melewati berbagai resiko dengan mendobrak keterbatasannya, termasuk tidak mempedulikan depresiasi harga peralatan, termasuk harus sering menutup hidung jika membaui kotoran sapi, yang akan dibuatnya nyetrum…. 🙂

halaman : 12 – [3]


Pustaka :

  1. Naskah hasil wawancara Nyoman Sarma oleh Andri Fajria, pada Seminar Solusi Praktis Menjawab kenaikan BBM, majalah GaGaz dan komunitas itb77, 28 agustus 2008
  2. situs dung poop power
  3. situs riverdeep cow power
  4. situs www.answers.com : cow dung
  5. situs ubud community
  6. situs nomad restaurant
  7. situs gianyar tourism
  8. situs www.lfpress.com
  9. situs manure manager
  10. situs www.iop.org
  11. situs hdisnak jawa barat
  12. situs disnak jawa tengah
  13. situs disnak jawa timur
  14. dokumen litbang deptan ntb : perkembangan digester
  15. dokumen www.surya.co.id
  16. dokumen departemen pertanian : publikasi

Komentar»

1. Irul - September 13, 2008

Saya sangat tertarik dengan artikel ini karena saat ini kami sedang membangun sambil belajar untuk mempromosikan teknologi energi alternatif ini untuk di kembangkan di Kabupaten Ketapang Kalimantan Barat.

Pak Irul, ysh. Salam kenal.

Saya pernah ke Pontianak tahun 2006. Di sana saya baru mengetahui bahwa jalan darat ketika itu dari Ketapang ke Pontianak termasuk sulit. Ada lagi daerah PutusSibau, kalau nggak salah ingat, juga berada di remote area. Harga BBM di sana tidak masuk akal.

Apa yang saya tulis merupakan ajakan dari Mas Alfred Menayang, beliau asli Minahasa Selatan. Beliau ketemu Pak Nyoman Sarma. Jika artikel itu bisa memberi inspiriasi, menurut saya berkat adanya pribadi-pribadi pioneer, seperti Pak Nyoman Sarma.

Saya tidak ingin mengkultuskan beliau. Tapi saya akan ikut senang, jika lebih banyak lagi putra-putri Indonesia yang berprestasi seperti beliau, dapat di-ekspose. Ini demi generasi muda yang lebih baik, yang bisa mengkoreksi yang kurang baik, dan menauladani yang sepatutnya bisa ditauladani.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: