jump to navigation

pupuk hayati September 17, 2008

Posted by witart in jawatengah.
Tags: ,
trackback

Pupuk Hayati Belum Banyak Dimanfaatkan
Rabu, 17 September 2008 | 01:23 WIB

SLEMAN, KOMPAS – Pupuk berteknologi agricultural growth promoting inoculant atau AGPI belum banyak dimanfaatkan untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas tanaman pangan. Padahal, pupuk hayati ini diyakini bisa meningkatkan produktivitas tanaman dan ramah lingkungan.

Achmad Yulianto, salah satu pemrakarsa penggunaan pupuk berteknologi AGPI di Kabupaten Sleman, DI Yogyakarta, Selasa (16/9), mengatakan, pupuk ini bisa meningkatkan produksi hingga 40 persen, menekan biaya produksi 20-30 persen karena tidak pakai pupuk kimia, memperpendek usia tanam, dan memperbaiki kesuburan tanah.

Dari pemanfaatan di beberapa tempat di Sleman sejak Mei 2008, penggunaan pupuk cair ini merangsang pertumbuhan rumpun produktif dari 6-8 batang per rumpun menjadi 15-20 batang per rumpun. ”Penggunaan pupuk ini mengurangi pemakaian pupuk kimiawi, seperti urea hingga 50 persen,” kata mantan Kepala Dinas Pertanian Sleman ini.

Bahan dasar pupuk ini adalah mikroorganisme seperti Azospirillium sp, Azotobacter sp, dan Lactobacillus sp yang dapat menjaga kesuburan tanah.

Hadi Wiyono (71), petani di Desa Margomulyo, Kecamatan Seyegan, Kabupaten Sleman, menyatakan, hasil panen padinya meningkat dengan pupuk itu. Hal serupa diungkapkan Jamasto (63), Ketua Kelompok Tani Sarana Makmur di Desa Margoluwih, Kecamatan Seyegan.

Kepala Bidang Tanaman Pangan dan Hortikultura Dinas Pertanian dan Kehutanan Sleman CC Ambarwati mengatakan, pihaknya mempersilakan sosialisasi dan pemasaran produk teknologi pertanian yang telah mendapatkan izin dari Departemen Pertanian. ”Kami tidak bisa merekomendasikan salah satu produk karena akan menyalahi prinsip kedinasan yang bebas kepentingan,” katanya.

Menurut Ambarwati, jika memang produk itu berkualitas dan memberikan keuntungan kepada petani, petani akan memakainya.(ENG)

sumber: kompas-cetak

Komentar»

1. abdulshomad - April 16, 2009

teoritis aja, yang penting cara bikinnya dan aplikasinya. indonesia terkenal dengan teorinya, contoh minyak jarak sampai sekarang 0 besar.

cara bikin ? kotoran burung puyuh yang diternakkan oleh adik saya di rumah orang tua kami, di desa, selalu habis diborong tengkulak petani. Itulah sebabnya sekarang saya mengumpulkan kliping artikel, yang merupakan catatan pengalaman orang lain, yang rela berbagi pengetahuan, untuk memberi nilai tambah bagi kotoran burung puyuh tadi. Mungkin itu yang Anda maksud teoritis.

Tapi apa hak Anda untuk membuat saya harus mengikuti PERINTAH Anda ?
Saya rasa Anda bukan boss saya.
🙂


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: